KATA PENGANTAR
sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Tak
lupa pula penyususn mengucapkan banyak terima kasih Kepada Team Dosen Pengajar Mata Kuliah Fisiologi
Tumbuhan yang telah meluangkan waktunya bagi kami mahasiswa untuk berbagi ilmu,
kepada para asisten praktikum fisiologi tumbuhan yang tidak pernah capek untuk
selalu member bimbingan dan arahan pada saat praktikum berlangsung.
Makalah
ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
HALAMAN
SAMPUL………………………………………………………......i
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………..ii
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………….iii
I.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang……………………………………………………………..…..1
B. Rumusan
Masalah………………………………………………………..…….2
C.
Tujuan…………………………………………………………………….……3
D.
Manfaat…………………………………………………………………….…..3
II.
PEMBAHASAN
A. Kapilaritas
Tanah………………………………………………………………4
B. Kapasitas Lapang
Tanah……………………………………………………….7
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan………………………………………………………………..….8
B.
Saran……………………………………………………………………….….8
DAFTAR
PUSTAKA
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kadar air biasanya dinyatakan dalam banyaknya air yang
hilang bila massa tanah dikeringkan dalam oven pada suhu 105OC
sampai diperoleh berat tanah kering yang tetap. Penentuan kandungan air dalam
tanah dapat ditentukan dengan istilah nisbi, seperti basah dan kering dan
istilah jenuh atau tidak jenuh. Jumlah air yang ditahan oleh tanah dapat
dinyatakan atas dasar berat atau isi. Titik layu permanen adalah kandungan air
tanah dimana akar-akar tanaman mulai tidak mampu lagi menyerap air dari tanah,
sehingga tanaman menjadi layu. Tanaman akan tetap layu baik pada siang ataupun
malam hari. Kandungan air pada titik layu permanen adalah pada tegangan 15 bar.
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain
oleh tekstur tanah. Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air
lebih kecil daripada tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang
ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah
bertekstur lempung atau liat. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air
dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi:
banyaknya curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya
evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),
tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau
kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah. Air
tersedia biasanya dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas lapangan
dan koefisien layu. Tetapi untuk kebanyakan mendekati titik layunya, absorpsi
air oleh tanaman kurang begitu cepat, dapat mempertahankan pertumbuhan tanaman.
Penyesuaian untuk menjaga kehilangan air di atas titik layunya.
Air tanah merupakan salah satu bagian penyusun tanah.
Air tanh hampir seluruhnya berasal dari udara dan atau atmosfer terutama
didaerah tropis air hujan itu dapat mrembes ke dalam tanah yang disebut
infiltrasi. Sedangkan sisanya mengalir di permukaan tanah sebagai aliran
permukaan tanah. Air infiltrasi tadi bila dalam jumlah banyak dan terus
merembes kedalam tanah secara vertikal dan meninggalkan daerahnya perakaranya
yang disebut perkolasi, yang akhirnya sampai pada lapisan yang kedap air yang
kemudian kumpul disitu menjadi air.
Kapasitas kandungan air tanah maksimum adalah jumlah
air maksimal yang dapat ditampung oleh tanah setelah hujan turun dengan sangat
lebat atau besar. Semua pori-pori tanah baik makro maupun mikro, dalam keadaan
terisi oleh angin sehingga tanah menjadi jenuh dengan air. Jika terjadi
penambahan air lebih lanjut, maka akan terjadi penurunan air gravitasi yang
bergerak lurus terus kebawah.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan pada makalah ini adalah sebagai
berikut :
1.
Bagaimana memahami
proses kapilaritas dan kapasitas tanah dalam pengangkutan air ?
2.
Bagaimana menghitung
kapasitas lapang tanah ?
C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai pada makalah
ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk memahami proses
kapilaritas dan kapasitas tanah dalam pengangkutan air ?
2.
Untuk menghitung
kapasitas lapang tanah ?
D.
Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari
makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Dapat memahami proses
kapilaritas dan kapasitas tanah dalam pengangkutan air ?
2.
Dapat menghitung
kapasitas lapang tanah ?
II.
PEMBAHASAN
A. Kapilaritas Tanah
Kapilaritas adalah peristiwa naik dan
turunnya suatu permukaan zat cair ke dalam pipa kapiler (pipa dengan atau dalam
celah adalah sempit). Inilah gejala kapilaritas yaitu naiknya minyak tanah
melalui sumbu kompor minyak atau lampu minyak dan naiknya air dan mineral dari
dalam tanah melalui akar pada tumbuhan. Tanah yang mampu menyerap air dari
bawah atau memiliki kapilaritas berarti tanah tersebut hidup subur atau punya
bahan organik yang tinggi. Kapilaritas disebabkan oleh interaksi
molekul-molekul di dalam zat cair. Zat cair molekul-molekulnya dapat mengalami
gaya adhesi dan kohesi.
Tanah merupakan media bagi pertumbuhan
tumbuhan serta sebagai penyedia sumber mineral dan bahan organik yang
dibutuhkan oleh tanaman. Pada tanah air berfungsi sebagai pelarut dan media
reaksi kimia. Tanah memliki kemampuan melewatkan ataupun menahan air dan udara
yang masuk kedalamnya (Oktaviani, 2012).
Tekstur tanah sangat mempengaruhi kemampuan tanah dalam memegang air.
Tanah bertekstur liat memiliki kemampuan yang lebih besar dalam memegang air
daripada tanah bertekstur pasir hal ini terkait dengan luas permukaan
adsorptifnya. Semakin halus teksturnya akan semakin besar kapasitas menyimpan
airnya (Haridjadja, 2013). Kemampuan menahan air pada tanah berbeda-beda sesuai
dengan tekstur dan jumlah pori-porinya. Pada umumnya tanah bertekstur tanah
liat yang dominan memiliki kemampuan menahan dan menyimpan air yang tinggi,
dikarenakan molekul air sangat kuat terjerap pada permukaan tanah. Sedangkan
pada tanah bertekstur pasir memiliki kemampuan memegang dan menyimpan air
sangat rendah.
Air merupakan salah satu komponen penting bagi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Air yang diserap tanaman adalah air yang
berada pada pori-pori tanah. Setiap jenis tanah memiliki distribusi dan ukuran
pori yang berbeda-beda, yang akan mempengaruhi ketersediaan air di dalam tanah
(Haridjadja, 2013). Pergerakan air didalam tanah bisa secara
vertical dan horizontal. Pergerakan air secara vertikal dapat berupa pergerakan
air ke bawah yang dipengaruhi oleh gerak gravitasi melalui infiltrasi dan
perkolasi sedangkan pergerakan air secara horizontal adalah pergerakan air ke
atas melalui gerak kapilaritas air tanah yang dipengaruhi oleh porositas tanah
dan temperatur tanah .
Pergerakan air dalam tanah di lahan
kering sangat penting perannya dalam pergerakan hara (nutrient transport)
dan dapat digunakan untuk estimasi ketersediaan air dan udara bagi tanaman.
Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi
masalah, terutama akhir-akhir ini berkaitan dengan dampak perubahan iklim
global yang berpengaruh terhadap siklus hidrologi. Hujan yang merupakan sumber
air utama pada lahan kering, datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan
air bagi tanaman, sehingga produksi tanaman tidak dapat mencapai optimum. Pada
saat hujan besar, sebagian besar air dapat hilang melalui aliran permukaan atau
terperkolasi ke zone di bawah perakaran, sehingga tidak tersedia bagi tanaman.
Pada hari-hari tanpa hujan tanaman dapat kekurangan air. Penelitian dalam upaya
peningkatan ketersediaan air bagi tanaman lahan kering telah banyak dilakukan
melalui perbaikan struktur tanah, pengaturan pola tanam, maupun efisiensi
irigasi (Wahjunie, 2008).
Pergerakan air maupun laju perubahan
kadar air dalam tanah sangat ditentukan oleh karakteristik pori tanah yang
menyusun struktur tanah, seperti distribusi pori, kontinuitas pori, dan
tortuositas pori. Akibat berbagai pengelolaan tanah yang telah dilakukan oleh
petani, tanah lahan kering memiliki struktur tanah yang sangat bervariasi,
sehingga berpengaruh pada karakteristik porinya(Wahjunie, 2008). Perbedaan struktur tanah
akibat berbagai pengelolaan, dapat mempengaruhi kemampuan tanah meretensi air
maupun pergerakan air baik jenuh maupun tak jenuh dalam tanah. Adapun Perfect et
al. (2002) menyatakan bahwa laju pergerakan air dapat mempengaruhi
distribusi air dan kelarutan hara dalam tanah, sehingga hara terdistribusi secara
merata pada zone perakaran. Pergerakan dan distribusi air yang ada dalam tanah juga
sangat tergantung pada sifat-sifat hujan yang jatuh (Toor, 2004).
Pengaruh hujan terhadap pergerakan dan
distribusi air dalam tanah juga sangat tergantung pada karakteristik pori tanah
dalam kaitannya dengan kadar air sebelum hujan dan laju infiltrasi tanah. pori
tanah yang banyak berkaitan dengan pergerakan air secara cepat adalah pori
makro dan meso. Hanya pori-pori makro yang kontinu dan saling bersambungan yang
berperan dalam pergerakan air secara cepat (Bodhinayake, 2004).
B.
Kapasitas Lapang Tanah
Kadar
air kapasitas lapang dapat ditetapkan dengan tiga metode yang berbeda-beda,
yaitu metode Alhricks, Drainase bebas, dan Pressure plate. Ketiga metode
tersebut memiliki prinsip yang berbeda. Secara umum prinsip metode Alhricks dan
Drainase bebas berdasarkan hilangnya air gravitasi, sedangkan metode Pressure
plate berdasarkan tekanan setara pF 2.54 (1/3 atm). Menurut hasil
penelitian Sulaeman (2011) terdapat perbedaan hasil yang nyata diantara metode
Alhricks dan metode Pressure plate, yaitu kadar air yang dihasilkan oleh
metode Pressure plate lebih kecil jika dibandingkan dengan metode
Alhricks. Menurut Baskoro dan Tarigan (2007) perbedaaan nilai kadar air
tersebut dapat disebabkan karena pemberian tekanan 1/3 atm pada penetapan
dengan metode Pressure plate sebenarnya hanya merupakan pendekatan.
Contoh tanah utuh yang digunakan dalam penetapan kadar air kapasitas lapang
dengan metode Pressure plate hanya setebal + 1 cm. Air yang ada pada
contoh tanah tersebut lebih mudah hilang dibandingkan dengan air dalam tanah
dengan kolom yang tebal seperti pada metode Alhricks.
III. PENUTUP
A.
Simpulan
Simpulan dari makalah ini yaitu
sebagai berikut :
1. Kapilaritas
adalah pergerakan cairan sepanjang permukaan padat yang disebabkan oleh daya
tarik molekul cairan dengan molekul yang padat. sebuah molekul air harus
memilih untuk tinggal dengan molekul air lain atau untuk pergi menempel sendiri
ke jaringan organik tanaman. Ketika molekul lebih tertarik pada tanaman, itu
ditarik ke arah jaringan organik. Meskipun daya tarik yang kuat untuk jaringan,
molekul air masih ingin membawa teman-teman nya. Oleh karena itu, molekul air
pertama masih menempel pada jaringan tanaman, dan juga membawa molekul air
nomor 2.
2. Kadar
air kapasitas lapang dapat ditetapkan dengan tiga metode yang berbeda-beda,
yaitu metode Alhricks, Drainase bebas, dan Pressure plate. Ketiga metode
tersebut memiliki prinsip yang berbeda. Secara umum prinsip metode Alhricks dan
Drainase bebas berdasarkan hilangnya air gravitasi, sedangkan metode Pressure
plate berdasarkan tekanan setara pF 2.54 (1/3 atm).
B.
Saran
Saran
yang dapat saya sampaikan pada makalah ini adalah agar praktikan lebih cermat
dalam penulisan makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Bagarello, V., M. lovino, and D. Elrick. 2004. A Simplified
falling-head technique for rapid determination of field - saturated hydraulic conductivity.
Soil Sci. Soc. Am. J. 68:66-73.
Baskoro,
D.P.T. dan S.D. Tarigan. 2007. Karakteristik kelembaban tanah pada beberapa
jenis tanah. J Tanah Lingk., 9:77-81.
Bodhinayake, W., B. Cheng Si, and C. Xiao. 2004. New
method for determining waterconducting macro-
and mesoporosity from tension
infiltrometer. Soil Sci. Soc. Am. J. 68:760-769.
Edwards, W.M., M.J. Shipitalo, W.A. Dick, and L.B.
Owens. 1992. Rainfall
intensity affects transport of
water and chemicals through macropores
in no-till soil. Soil Sci. Soc. Am. J.
56:52-58.
Haridjadja, O., 2013, Perbedaan
Nilai Kadar Air Kapasitas Lapang Berdasarkan Metode Alhricks, Drainase Bebas,
Dan Pressure Plate Pada Berbagai Tekstur Tanah Dan Hubungannya Dengan
Pertumbuhan Bunga Matahari (Helianthus Annuus L.), Jurnal Tanah Lingkungan, ISSN 1410-7333
Oktaviani, S., 2012, Kapilaritas Air dan
Kapasitas Lapang Tanah, Jurnal Ilmiah, 1
(2) : 1-2
Perfect, E.M.C., Sukop, and G.R. Haszler, 2002. Prediction
of dispersivity for undisturbed soil columns
from water retention parameters. Soil
Sci. Soc. Am. J. Pp. 696-701.
Sulaeman,
D. 2011. Efek kompos limbah baglog jamur tiram putih terhadap sifat fisik tanah
serta pertumbuhan bibit markisa kuning [Skripsi]. IPB. Bogor.
Wahjunie,
E., D., 2008, Pergerakan Air pada Tanah
dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi
Tanaman, Jurnal Tanah dan Iklim, ISSN 1410 – 7244
No comments:
Post a Comment